Thursday, 28 February 2019

SIFAT-SIFAT ‘IBADURRAHMAN (HAMBA-HAMBA ALLAH ﷻ YANG MAHA PENGASIH


Dari muhadhoroh: Dr. Abdullah Roy, Lc. MA.
Allah menyebutkan   sifat-sifat hamba Allah ar-rahman (Maha pengasih), dalam surah al-furqon, yang insya Allah kita bahas (pada kesempatan ini), dengan  harapan  kita dapat mengamalkannya pada kehidupan sehari-hari, sifat-sifat tersebut adalah sebagai berikut:
1. Memiliki Sifat Tawadhu’ (Rendah Hati)
Nabi   bersabda:
من تواضعَ للَّهِ رفعَه اللَّهُ
barang siapa yang rendah hati maka Allah akan mengangkatnya (Hadis riwayat Abu Nu’aim 8/46)
Namun, maksud dari Kesombongan bukanlah orang yang memiliki baju atau sendal yang bagus. Nabi bersabda  bersabda:
لا يدخلُ الجنَّةَ من كانَ في قلبِه مثقالُ ذرَّةٍ مِن كِبرِ ولا يدخلُ النَّارَ مَن كانَ في قلبِه مثقالُ ذرَّةٍ منإيمانٍ فقال رجلٌ يا رسولَ اللَّهِ الرَّجلُ يحبُّ أن يَكونَ ثوبُه حسنًا ونعلُه حسنةً فقال رسولُ اللَّهِ ﷺ إنَّ اللَّهَ جميلٌ يحبُّ الجمالَ إنَّ الكبرَ مَن بطِرَ الحقِّ وغمَص النَّاسَ
Tidaklah masuk surga oraang yang pada dirinya terdapat kesombongan, dan tidak akan masuk neraka orang yang pada dirinya ada sebesar biji sawi dari keimanana, maka ada seorang yang bertanya, ya Rasulullah! Ada seseorang yang menyukai baju nya bagus, sendalnya banggus, maka Nabi nl bersabda: “sesungguhnya Allah maha inda dan suka akan keindahan, sesungguhnya kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehhkan manusia (Hadis riwayat Ahmad 4/133).
Namun begitu, Bukanlah pula makna tawadhu itu berjalan dengan lambat yang dibuat-buat, kita ketahui Nabi   kita   adalah hamba Allah yang paling sempurna ketawadhu’an beliau, namun beliau ketika berjalan adalah seperti orang yang turun dari tempat yang tinggi (sangat cepat).
[BAGAIMANA AGAR KITA BISA TAWADHU’?]
Cara agar seseorang bisa tawadhu, adalah dengan  melihat kekurangan dirinya, mengkoreksi dirinya dan banyak melihat aib dirinya banyak melakukan  kemaksiatan, ini akan membantu dia untuk tawadhu dan tidak membuatnya mudah  sombong dan bangga diri dengan keta’atan yang ia lakukan.
Begitulah Allah menshifati hamba-hambanya yang sejati, sebagaimana dalam firman Nya:
وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا
Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati (al-Furqon: 63).
2. Suka Memaafkan Atas Kesalahan Orang Lain dan Memiliki Kelembutan
            kenapa dia melakukan ini? Karena dia adalah hamba Allah . Dia meniru sifat Rasulullah  , yang memiliki sifat alhilmu, yaitu tidak mudah marah. Bahkan dia memaafkan,  ini adalah sifat mulia yang jarang didapati pada diri manusia kebanyakan. Dan sifaat pema’af  bisa didapatkan dengan terus mengupayakannya  setelah taufiq dari Allah .
Diantara cara mendapatkan hal ini adalah:

Pertama:  dengan menyadari bahwa apa yang terjadi padanya  adalah takdir dari Allah azza wajalla. Dia yakini bahwa tidaklah dia disakiti dengan lisan maupun tangan kecuali terjadi nya atas takdir Allah , yang Allah telah tuliskan atasnya lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi, maka barang siapa yang meyakini  ini akan menenangkan hatinya. Maka dia ingat bahwa musibah yang tertimpa  pada dirinya itu atas izin Allah , sebagaimana Allah berfirman:
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ
Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah (at-Taghabun: 11).
Kedua: mengingat bahwa  tidaklah musibah itu tertimpa kepada kita, kecuali disebabkan oleh ulah perbuatan  kita. Allah berfirman:
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ
Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (as-Syuro: 30)
Berkata Ali bin abi tholib –radiyallahu ‘anhu- :
مَا نزل بَلَاءٌ إِلَا بِذَنْبٍ وَلَا رُفِعَ إِلَا بِتَوْبَةٍ
Tidaklah musibah turun kecuali dengan sebab dosa, dan tidak akan diangkat kecuali dengan taubat. (dinukilkan dalam ad-Da’ wa ad-Dawa’, Hal. 157).
Maka dia mengkoreksi dirinya, munghkin saja lisannya belum lurus, matanya masih suka dosa, inilah yang seharusnyaia lakukan, bukan malah mencari kesalahan orang lain.    Dosa (tidak harus yang Nampak) adakalanya dosa hati, karena riya tidak ikhlas, sombong dan lain-lain.
Ketiga: Karena jika dia membalas dan berusaha untuk dendam maka akan merugikan dirinya sendiri, pikirannya akan terkuras, waktunya akan habis; Di kantor, di rumah, hatinya tidak pernah tenang, demikian juga ketika menjelang tidur dan selepas bangun tidur, hatinya tidak merasa tentram, sehingga  keluarganya terbengkalai, anaknya tidak terurus, kerjaannya tidak focus, ibadahnya juga berkurang, hanya karena memikirkan bagaimana membalasnya, jika seandainya dia memafkan dari awal maka dia bisa melakukan lebih banyak kebaikan. dan ketika dia menghadapi keburukan dengan memaafkan nya, maka dia akan mendapatkan kebaikan-kebaikan tadi, dan tentunya dia juga mendapatkan pahala di sisi Allah .
Allah berfirman:
وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
Dan balasan keburukan adalah keburukan yang semisal, maka barang siapa yang mau memaa’afkan daan berdaamai maka pahalanya adalah dari Allah , sesungguhnya Ia tidak menyukai orang-orang yang berbuat kezholiman. (as-Syuro: 40).
Ini menunjukkan besarnya balasan bagi orang yang memaafkan. Adapun membalas  sehingga melakukan  kezholiman (melebihi kesalahan orang lain) maka tidaklah boleh.                 Dan kebanyakan orang yang membalas adalah dengan kezholiman, maka yang paling baik adalah memaafkan kesalahan orang.
3. Melakukan Sholat Malam Dengan Ikhlas
Allah berfirman:
وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا
Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. (al-Furqon: 64).
Malam hari adalah waktu yang tepat untuk beribadah kepada Allah , terlebih di sepertiga malam terakhir, karena lebih jauh dari riya'. apalagi ditambahkan dengan membaca al-Quran, seorang yang sholat malam dia adalah sedang bermunajat (berbicara) kepada Allah , mereka mendapatkan ketenangan padanya, meminta kepada Allah atas hajat-hajat yang ia inginkan. Ini adalah diantara sifat hamba Allah , tidak hanya berakhlak kepada manusia tapi juga beradab kepada Allah . Allah juga menyebutkan (tentang sifat penduduk syurga):
كَانُوا قَلِيلًا مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ
Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. (ad-Zariyat:17).
Demikian halnya Nabi   menjaga sholat malam beliau, karena ia adalah sholat yang paling afdhol (utama) setelah sholat lima waktu.
4. Merasa Takut Kepada Azab Allah
seorang hamba Allah mereka beribadah kepada Nya dibarengi dengan rasa takut yang begitu besar kepada Allah , karena itu ia bangun dimalam hari, dan mereka berwudhu padahal dia tidak menyukainya, dan termasuk diantaranya dengan berdo'a. Maka hamba ar-Rahman pada dirinya ada rasa takut kepada Allah ,     oleh karena itu dia berlindung dari azab jahannam.
Nabi mengajari kita doa berlindung dari azab neraka.
اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ الجنَّةَ وما قرَّبَ إليها من قَولٍ أو عملٍ ، وأعوذُ بِكَ منَ النَّارِ وما قرَّبَ إليها من قولٍ أو عملٍ
Ya Allah sesungguhnya aku meminta kepadamu syurga dan apa-apa yang mendekatkan kepadanya baik ucapan maupun perbuatan, dan aku berlindung kepadaMu dari neraka dan apa-apa yang mendekatkan kepadanya baik ucapan maupun perbuatan (Hadis riwayat Muslim: 2716).

Beliau juga (mengajarkan) untuk berlindung dari azab kubur sebelum salam:
اللهمَّ إني أعوذُ بك منعذابِ جهنمَ، ومن عذابِ القبرِ، ومن فتنةِ المحيا والمماتِ ومن شرِّ فتنةِ المسيحِ الدجّالِ
Ya Allah  aku berlindung kepadaMu dari azab neraka jahannam, dan dari azab kubur, dan dari fitnah kehidupan dan fitnah kematian dan dari keburukan fitnah almasih dajjal (hadis riwayat Muslim: 588).
(pantaslah demikian) karena, neraka adalah tempatnya azab yang sangat pedih. Allah berfirman:
فَيَوْمَئِذٍ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ
Maka pada hari itu tiada seorangpun yang menyiksa seperti siksa-Nya. (al-Fajr: 25).
Kalau kita melihat dalam kehidupan dunia ini,  betapa dahsyatnya azab yang dirasaakan manusia di sebagian belahan dunia, orang-orang disiksa dengan kejamnya, begitu juga ummat terdahulu ada yang diazab dengan gergaji dibelah tubuhnya menjadi dua bagian, di sisir kulitnya dengan sisir dari besi sehingga Nampak tulangnya, dan lain sebagainya, ini semua terjadi didunia, maka bagaimana lagi dengan azab dineraka?.
dengan demikian, seorang mukmin berdo’a memohon perlindungan kepada Allah dari azab neraka karena dia takut azab Allah .
Beginilah seorang mukmin, mereka berbuat baik namun mereka merasa khawatir terhadap azab Allah .
Allah menyebutkan:
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka (al-Mu’minun: 60).

عن عائشة أم المؤمنين: سألت رسول اللهِ ﷺ عن هذه الآية{والذين يؤتون ما آتوا وقلوبهم وجلة} قالت عائشة أهم الذين يشربون الخمر ويسرقون قال لا يا بنت الصديق ولكنهم الذين يصومون ويصلون ويتصدقون وهم يخافون أن لا تقبل منهم أولئك الذين يسارعون في الخيرات وهم لها سابقون
Dari ‘Aisyah -radiyallahu ‘anha-  berkata, saya bertanya kepada Rasulullah  tentang ayat ini (al-Mu’minun: 60), Aisyah berkata: apakah mereka adalah orang yang minum khamr dan mencuri?, Nabi   menjawab: “tidak wahai bintu as-Shiddiq, akan tetapi mereka adalah orang yang berpuasa dan sholat dan bersedekah, namun mereka takut tidak diterima ibadah mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya. (Hadis riwayat at-Tirmidzi: 3175).
semakin tinggi kedudukan hamba maka semakin besar rasa takutnya kepada azab Allah dan semakin banyak ia berlindung kepada Nya dari neraka.
Karena Neraka itu adalah tempat yang terjelek, sebagaimana dalam fir,man Allah :
إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا
Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. (al-Furqon: 66).
5. Hamba Allah menggunakan hartanya untuk beribadah, infaq dan shafqoh dan ketaatan
    kepada Allah tanpa berlebih-lebihan dan tidak pula pelit.
Allah berfirman:
وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا
Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (al-Furqon: 67).
Hamba Allah yang maha ar-Rahman, ketika ia telah menundukkan dirinya kepada Rabnya, maka ia juga tunduk kepada-Nya berkaitan dengan hartanya, sehingga mereka tidak berlebihan dalam berinfaq dan juga tidak bakhil (pelit).
Tidak Berlebihan, artinya tidak boros. termasuk dalam berlebihan bila mana dia infaq kepada fakir miskin, namun dia lupa menafkahi keluarganya, jangan sampai ia membengkalaikan kewajibannya. Maka hamba Allah tidak menggunakan hawa nafsunya dalam berinfaq.         
Yang Allah inginkan adalah pertengahan antara keduanya. Namun juga tidak bakhil, susah keluar uangnya, atau bakhil kepada keluarganya, beli baju yang tidak sepantasnya padahal dia mampu, membeli sendal yang tidak layak, padahal dia ada keluasan rizki. (dan yang wajib adalah membelanjakan harta sesuai dengan keadaannya).
Kalau rizkinya ada keluasan maka dia berinfak sesuai dengan keluasannya, ia mengikuti aturan Allah dalam urusan ini (management harta).
6. Dia mentauhidkan Allah . Tidak memalingkan segala ibadah kepada selain Allah ,
    tidaklah ia berdo’a, sholat, puasadn haji kecuali kepada Allah .
Allah berfirman:
وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا
Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya) (al-Furqon: 68).
Jika seseorang masih memalingkan ibadah kepada selain Allah maka dia belum menjadi hamba Allah .            Walaupun, namanya Abdullah maka tidak dikatakan hamba Allah jika dia masih melakukan kesyirikan.

Hamba Allah Dia bukan menghamba kepada jimat, dukun dan lain sebagainya … akan tetapi, dia hanya menghambakan diri  kepada Allah .
7. Tidak membunuh nyawa manusia yang diharamkan kecuali dengan cara yang hak
Ini menunjukkan kesempurnaan penghambaan nya kepada Allah .
Ia mengikuti aturan Allah , dia tidak akan membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah . Dan diantara jiwa yang Allah haramkan adalah jiwa seorang muslim.
Nabi bersabda:
لَزوالُ الدُّنيا أهونُ على اللهِ من قتلِ رجلٍ مسلمٍ
Sungguh hilangnya dunia dan seisinya lebih ringan bagi Allah dari pada membunuh jiwa seorang muslim ( Hadis riwayat AT-Tirmidzi: 1395 ).
Dan apa yang kita dengar pada media-media, begitu mudahnya orang membunuh, maka ini sangat menyedihkan.
Membunuh adalah termasuk dosa besar, Allah berfirman:
وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُّتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا
Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. (an-Nisa’: 93).
Oleh karena itu islam menghukum qishos bagi pembunuh.
Karena, biasanya orang yang sudah pernah membunuh, mereka akan mudah untuk membunuh untuk selanjutnya, Maka ini adalah hikmah Allah . Dan Allah mengabarkan bahwa pada qishos terdapat kehidupan, (yakni, kehidupan dan terjaganya jiwa-jiwa yang tak berdosa dari kejahatan tangan-tangan yang suka membunuh).
Tidaklah dihalalkan membunuh manusia kecuali dari apa yang dihalalkan oleh Nabi , (diantaranya apa yang disebutkan pada hadis berikut):
لا يحل دم امرئٍ مسلمٍ يشهد أن لا إله إلا الله وأني رسول الله إلا بإحدى ثلاثٍ: الثيب الزاني، والنفس بالنفس، والتارك لدينه المفارق للجماعة
Tidaklah halal darah seorang muslim kecuali dengan salah satu dari tiga hal; ast-Sayyib (orang yang sudah pernah menikah) yang berzina, jiwa dibalas dengan jiwa (qisos), orang yang murtad dari agamanya dan memisahkan diri dari jama’ah kaumuslimin. (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim).
(Hadis ini terkandung padanya dihalalkan-nya darah-darah berikut: )
1. Wanita/laki-laki yang sudah pernah menikah lalu berzina, (maka dia dirajam sampai mati)
2. Pembunh jiwa orang lain (dengan jalan yang tidak dibenarkan), maka dia diqishos
3. Orang yang murtad (meninggalkan agama islam).
Sebagaimana sabda Nabi :
مَنْ بَدَّلَ دِيْنَهُ فَاقْتَلُوهُ
Barang siapa yang meninggalkan agamanya maka bunuhlah dia (Hadis riwayat al-Bukhari: 6922 ).
Diantara orang yang keluar dari agama islam adalah penghina al-Quran, tukang sihir (dsb..).
Adapun, yang dapat melakukan ini semua adalah para penguasa (pemimpin sebuah negara).
4. Orang kafir harbi maka dihalalkan darahnya (adapun kafir dzimmi, mu’ahad dan
    musta’man;maka tidak dihalalkan).
Maka hamba Allah tidak akan mengikuti hawa nafsunya, jika Allah mengatakan jangan maka dia tidak pernah akan melakukannya.
8. Tidak berzina.
Yaitu melampiaskan syahwatnya bukan kepada istrinya atau hamba sahayanya yang perempuan.  
Seorang hamba Allah tidak meletakkannya kecuali pada Apa yang Allah halalkan, maka dia tidak berzina.
Zina adalah dosa besar, adanya hukuman didunia (dan azab yang pedih di akhirat). Padasnya  ada kerusakan-kerusakan yang banyak: tercampurnya nasab, menyebarnya penyakit, tersobeknya kehormatan kaumuslim.
Bahkan, islam melarang kita dari mendekati zina.
Allah berfirman:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًاوَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (al-Isra: 32).
perkara-perkara yang memicu zina sangatlah banyak, diantaranya hal-hal berikut ini: Pandangan yang harom, berkholwat, menyentuh wanita yang bukan mahrom (seperti bersalaman), berbicara yang berlebihan (dan lain-lain).
Terlebih dizaman sekarang, fitnah wanita semakin dahsyat, dengan adanya intrnet dan alat-alat komunikasi yang begitu canggihnya.
Hendaknya kita merasa takut untuk (atas fitnah ini) terhadap diri kita dan juga anak-anak kita.
Pada saat ini sangat sulit untuk selamat dari gelombang fitnah ini kecuali bagi siapa yang Allah jaga (Oleh karenanya butuh kesungguhan dalam menghadapi masalah ini).
Kemudian, Allah melanjutkan, barang siapa yang melakukan hal demikian maka dia akan mendapatkan (atsama), sebagian ulama tafsir menyebutkan makananya yaitu lembah di neraka dengan sebab menyekutukan Allah , membunuh, dan berzina. (adapun) Kekal didalamnya selama-lamanya, adalah bagi orang yang mengumpulkan tiga hal tadi pada dirinya; kesyirikan, membunuh, dan berzina.
Adapun, bagi pelaku dosa besar; seperti zina, membunuh, (dan lain-lain)  maka dia tidak kekal didalam neraka.
Allah berfirman:
إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ
Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah , maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (al-Maidah: 72).
Selanjutnya, Allah melanjutkan, kecuali orang yang bertaubat; bertaubat dari dosa-dosa tadi. Ia menyesal lalu meninggalkannya dengan azam (tekad yang kuat) untuk tidak balik kepada dosa tadi dan diapun beriman kepada Allah dengan diiringi dengan amal-amal sholih, maka bagi mereka itu Allah gantikan kesalahan-kesalahan yang pernah mereka perbuat dengan kebaikan-kebaikan.  Dia yang punya dosa syirik, dosa memandang kepada yang harom, durhaka kepada org tua, dan lain sebagainya, maka dosa-dosanya ini Allah rubah menjadi kebaikan. Jika dosanya berjumlah seratus, maka 100 dosa tersebut Allah rubah menjadi 100 kebaikan, tidak hanya diampuni dosanya, tetapi dirubah dosanya menjadi kebaikan. Lalu, kenapa kita masih menunda-nunda untuk bertaubat?.
Allah berfirman:
وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا
Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. (al-Furqon: 25).
9. tidak menghadiri majelis  az-zur  dan tidak mengikuti perkara yang sia-sia.
    (az-zur yaitu majelis-majelis yang didalamnya terdapat perbuatan ataupun ucapan-ucapan yang
    diharamkan)
    (Kesia-siaan) yaitu perkara yang tidak ada kegunaan untuk dunianya dan akhiratnya.
10. Mereka jika diingatkan tentang Ayat-ayat Allah , mereka tidak akan berpaling, dia
      berusaha untuk mendengarnya, tidak  bersikap seorah tuli dan buta.
Karena bagi dia kalamullah adalah sesuatu yang agung.
11. berdoa kepada Allah
(diantara isi do’a mereka: )
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (al-Furqon: 74).

Selain memperhatikan diri sendiri, mereka mendoakan orang lain, termasuk anak dan istri mereka.
Hati mereka menjadi tenang dengan melihat anak-anak dan istri-istri merekaa berada pada keta’atan, yang Pada hakikatnya hal ini adalah kebaikan untuk diri-diri mereka sendiri, karena kesholihan anak dan istri adalah kebaikan juga untuk diri mereka.
(karena, wanita adalah perhiasan) dan Sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholihat.
Dan jika seseorang meninggal dunia akan terputus semua amalnya kecuali (diantaranya) dari anak sholihyang sholih.
Diantara isi doanya juga, adalah: “ya Allah jadikanlah kami imam bagi orang yang bertaqwa.”
(Imam) disini, artinya adalah qudwah dan panutan bagi orang-orang yang bertaqwa. Manusia meeniru apa yang ia lakukan dari kebaikan-kebaikan.
mereka mendapatkan pahala yang besar disebabkan mausia mencontoh perbuatan baiknya.
 Nabi   bersabda:
مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا
Barang siapa yang mencontohkan sesuatu kebaikan didalam islam maka dia akan mendaapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun (Hadis riwayat Muslim: 1017).
[ BALASAN BAGI ‘IBADUR-RAHMAN]
Balasan mereka, akan Allah berikan bagi mereka kamar disurga, kamar (yang keindahannya) tidak pernah didengar oleh telinga, tidak pernah terlihat oleh pandangan mata dan tidak pernah terbetik dalam hatinya (selama didunia), maka kamar (yang disiapkan bagi mereka) disurga lebih baik lagi dari seluruh kamar yang pernah kita dengat ataupun kita lihat.

Mereka mendapatkan ini semua karena kesabaran mereka dalam melaksanakan keta’atan-keta’atan diatas …
merekaBersabar dalam tawadhu’, bersabar dalam berinfaq, bersabar dalam menjaga kemaluan (dari perkara yang diharamkan) . Semuanya butuh kesabaran.
mereka disurga akan diterima dan disambut dengan penuh penghormatan, dan mereka diterima dengan  mengucapkan salam keselamatan.
surga adalah tempat keselamatan tanpa setitik pun dari kesusahan, dan mereka kekal didalamnya slama-lamanya.
Seorang hamba Allah ia lebih mendahulukan apa yang Allah janjikan kepadanya (berupa kenikmatan akhirat) dari pada keuntungan (kenikmatan) dunia dan seisinya, Itulah dia surga sebaik-baik tempat tinggal.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
*Catatan pribadi hamba Allah al-Faqir ila Rabbih: Abu Salman –Semoga Allah menjaganya-
(bila mana dalam catatan ini terdapat kesalahan baik nukilan maupun konten, maka tidak dapat di nisbatkan kepada al-Ustadz Dr. Abdullah Roy, Lc. Ma.)

0 komentar:

Post a Comment