Allah ﷻ menyebutkan sifat-sifat
hamba Allah ﷻ ar-rahman (Maha
pengasih), dalam surah al-furqon, yang insya Allah ﷻ
kita bahas (pada kesempatan ini), dengan
harapan kita dapat mengamalkannya
pada kehidupan sehari-hari, sifat-sifat tersebut adalah sebagai berikut:
1. Memiliki Sifat Tawadhu’ (Rendah Hati)
Nabi ﷺ bersabda:
من تواضعَ للَّهِ رفعَه اللَّهُ
barang siapa yang rendah hati maka Allah ﷻ akan mengangkatnya (Hadis riwayat Abu
Nu’aim 8/46)
Namun, maksud dari Kesombongan bukanlah orang yang
memiliki baju atau sendal yang bagus. Nabi ﷺ
bersabda bersabda:
لا يدخلُ الجنَّةَ من كانَ في قلبِه مثقالُ ذرَّةٍ
مِن كِبرِ ولا يدخلُ النَّارَ مَن كانَ في قلبِه مثقالُ ذرَّةٍ منإيمانٍ فقال رجلٌ
يا رسولَ اللَّهِ الرَّجلُ يحبُّ أن يَكونَ ثوبُه حسنًا ونعلُه حسنةً فقال رسولُ
اللَّهِ ﷺ إنَّ اللَّهَ جميلٌ يحبُّ الجمالَ إنَّ الكبرَ مَن بطِرَ الحقِّ وغمَص
النَّاسَ
Tidaklah masuk surga
oraang yang pada dirinya terdapat kesombongan, dan tidak akan masuk neraka
orang yang pada dirinya ada sebesar biji sawi dari keimanana, maka ada seorang
yang bertanya, ya Rasulullah! Ada seseorang yang menyukai baju nya bagus,
sendalnya banggus, maka Nabi ﷺ nl bersabda:
“sesungguhnya Allah ﷻ maha inda dan suka
akan keindahan, sesungguhnya kesombongan adalah menolak kebenaran dan
meremehhkan manusia (Hadis riwayat Ahmad 4/133).
Namun begitu, Bukanlah
pula makna tawadhu itu berjalan dengan lambat yang dibuat-buat, kita ketahui
Nabi ﷺ
kita adalah hamba Allah ﷻ yang paling sempurna ketawadhu’an beliau,
namun beliau ketika berjalan adalah seperti orang yang turun dari tempat yang
tinggi (sangat cepat).
[BAGAIMANA AGAR KITA BISA TAWADHU’?]
Cara agar seseorang
bisa tawadhu, adalah dengan melihat
kekurangan dirinya, mengkoreksi dirinya dan banyak melihat aib dirinya banyak
melakukan kemaksiatan, ini akan membantu
dia untuk tawadhu dan tidak membuatnya mudah
sombong dan bangga diri dengan keta’atan yang ia lakukan.
Begitulah Allah ﷻ
menshifati hamba-hambanya yang sejati, sebagaimana dalam firman Nya:
وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى
الْأَرْضِ هَوْنًا
Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu
(ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati (al-Furqon:
63).
2. Suka Memaafkan Atas Kesalahan Orang
Lain dan Memiliki Kelembutan
kenapa
dia melakukan ini? Karena dia adalah hamba Allah ﷻ.
Dia meniru sifat Rasulullah , yang
memiliki sifat alhilmu, yaitu tidak mudah marah. Bahkan dia memaafkan, ini adalah sifat mulia yang jarang didapati
pada diri manusia kebanyakan. Dan sifaat pema’af bisa didapatkan dengan terus
mengupayakannya setelah taufiq dari
Allah ﷻ.
Diantara cara mendapatkan hal ini adalah:
Pertama: dengan menyadari bahwa apa yang terjadi
padanya adalah takdir dari Allah ﷻ azza wajalla. Dia yakini bahwa tidaklah
dia disakiti dengan lisan maupun tangan kecuali terjadi nya atas takdir Allah ﷻ, yang Allah ﷻ
telah tuliskan atasnya lima puluh ribu tahun sebelum Allah ﷻ menciptakan langit dan bumi, maka barang siapa yang
meyakini ini akan menenangkan hatinya.
Maka dia ingat bahwa musibah yang tertimpa
pada dirinya itu atas izin Allah ﷻ,
sebagaimana Allah ﷻ berfirman:
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ
اللَّهِ
Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang
kecuali dengan ijin Allah ﷻ (at-Taghabun: 11).
Kedua: mengingat bahwa tidaklah musibah itu tertimpa kepada kita,
kecuali disebabkan oleh ulah perbuatan
kita. Allah ﷻ berfirman:
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ
أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ
Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah
disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah ﷻ
memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (as-Syuro: 30)
Berkata Ali bin abi tholib –radiyallahu ‘anhu- :
مَا نزل بَلَاءٌ إِلَا بِذَنْبٍ وَلَا رُفِعَ إِلَا
بِتَوْبَةٍ
Tidaklah musibah turun kecuali dengan sebab dosa,
dan tidak akan diangkat kecuali dengan taubat. (dinukilkan dalam ad-Da’ wa
ad-Dawa’, Hal. 157).
Maka dia mengkoreksi
dirinya, munghkin saja lisannya belum lurus, matanya masih suka dosa, inilah
yang seharusnyaia lakukan, bukan malah mencari kesalahan orang lain. Dosa (tidak harus yang Nampak) adakalanya
dosa hati, karena riya tidak ikhlas, sombong dan lain-lain.
Ketiga: Karena jika dia
membalas dan berusaha untuk dendam maka akan merugikan dirinya sendiri, pikirannya
akan terkuras, waktunya akan habis; Di kantor, di rumah, hatinya tidak pernah
tenang, demikian juga ketika menjelang tidur dan selepas bangun tidur, hatinya
tidak merasa tentram, sehingga
keluarganya terbengkalai, anaknya tidak terurus, kerjaannya tidak focus,
ibadahnya juga berkurang, hanya karena memikirkan bagaimana membalasnya, jika
seandainya dia memafkan dari awal maka dia bisa melakukan lebih banyak
kebaikan. dan ketika dia menghadapi keburukan dengan memaafkan nya, maka dia
akan mendapatkan kebaikan-kebaikan tadi, dan tentunya dia juga mendapatkan
pahala di sisi Allah ﷻ.
Allah ﷻ
berfirman:
وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۖ فَمَنْ
عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
Dan balasan keburukan adalah keburukan yang semisal,
maka barang siapa yang mau memaa’afkan daan berdaamai maka pahalanya adalah
dari Allah ﷻ, sesungguhnya Ia tidak menyukai
orang-orang yang berbuat kezholiman. (as-Syuro: 40).
Ini menunjukkan
besarnya balasan bagi orang yang memaafkan. Adapun membalas sehingga melakukan kezholiman (melebihi kesalahan orang lain)
maka tidaklah boleh. Dan
kebanyakan orang yang membalas adalah dengan kezholiman, maka yang paling baik
adalah memaafkan kesalahan orang.
3. Melakukan Sholat Malam Dengan Ikhlas
Allah ﷻ berfirman:
وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا
وَقِيَامًا
Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud
dan berdiri untuk Tuhan mereka. (al-Furqon: 64).
Malam hari adalah waktu
yang tepat untuk beribadah kepada Allah ﷻ,
terlebih di sepertiga malam terakhir, karena lebih jauh dari riya'. apalagi
ditambahkan dengan membaca al-Quran, seorang yang sholat malam dia adalah
sedang bermunajat (berbicara) kepada Allah ﷻ,
mereka mendapatkan ketenangan padanya, meminta kepada Allah ﷻ atas hajat-hajat yang ia inginkan. Ini adalah diantara sifat
hamba Allah ﷻ, tidak hanya
berakhlak kepada manusia tapi juga beradab kepada Allah ﷻ. Allah ﷻ juga menyebutkan
(tentang sifat penduduk syurga):
كَانُوا قَلِيلًا مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ
Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam.
(ad-Zariyat:17).
Demikian halnya Nabi ﷺ menjaga sholat malam beliau, karena ia adalah
sholat yang paling afdhol (utama) setelah sholat lima waktu.
4. Merasa Takut Kepada Azab Allah ﷻ
seorang hamba Allah ﷻ mereka beribadah kepada Nya dibarengi
dengan rasa takut yang begitu besar kepada Allah ﷻ,
karena itu ia bangun dimalam hari, dan mereka berwudhu padahal dia tidak
menyukainya, dan termasuk diantaranya dengan berdo'a. Maka hamba ar-Rahman pada
dirinya ada rasa takut kepada Allah ﷻ, oleh karena itu dia berlindung dari azab
jahannam.
Nabi ﷺ mengajari kita doa
berlindung dari azab neraka.
اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ الجنَّةَ وما قرَّبَ إليها
من قَولٍ أو عملٍ ، وأعوذُ بِكَ منَ النَّارِ وما قرَّبَ إليها من قولٍ أو عملٍ
Ya Allah ﷻ sesungguhnya aku meminta kepadamu syurga
dan apa-apa yang mendekatkan kepadanya baik ucapan maupun perbuatan, dan aku
berlindung kepadaMu dari neraka dan apa-apa yang mendekatkan kepadanya baik
ucapan maupun perbuatan (Hadis riwayat Muslim: 2716).
Beliau ﷺ
juga (mengajarkan) untuk berlindung dari azab kubur sebelum salam:
اللهمَّ إني أعوذُ بك منعذابِ جهنمَ، ومن عذابِ
القبرِ، ومن فتنةِ المحيا والمماتِ ومن شرِّ فتنةِ المسيحِ الدجّالِ
Ya Allah ﷻ
aku berlindung kepadaMu dari azab neraka jahannam, dan dari azab kubur, dan
dari fitnah kehidupan dan fitnah kematian dan dari keburukan fitnah almasih
dajjal (hadis riwayat Muslim: 588).
(pantaslah demikian) karena, neraka adalah tempatnya
azab yang sangat pedih. Allah ﷻ berfirman:
فَيَوْمَئِذٍ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ
Maka pada hari itu tiada seorangpun yang menyiksa
seperti siksa-Nya. (al-Fajr: 25).
Kalau kita melihat dalam kehidupan dunia ini, betapa dahsyatnya azab yang dirasaakan
manusia di sebagian belahan dunia, orang-orang disiksa dengan kejamnya, begitu
juga ummat terdahulu ada yang diazab dengan gergaji dibelah tubuhnya menjadi
dua bagian, di sisir kulitnya dengan sisir dari besi sehingga Nampak tulangnya,
dan lain sebagainya, ini semua terjadi didunia, maka bagaimana lagi dengan azab
dineraka?.
dengan demikian, seorang mukmin berdo’a memohon
perlindungan kepada Allah ﷻ dari azab neraka
karena dia takut azab Allah ﷻ.
Beginilah seorang mukmin, mereka berbuat baik namun
mereka merasa khawatir terhadap azab Allah ﷻ.
Allah ﷻ
menyebutkan:
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ
وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
Dan orang-orang yang
memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena
mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka
(al-Mu’minun: 60).
عن عائشة أم المؤمنين: سألت رسول اللهِ ﷺ عن هذه
الآية{والذين يؤتون ما آتوا وقلوبهم وجلة} قالت عائشة أهم الذين يشربون الخمر
ويسرقون قال لا يا بنت الصديق ولكنهم الذين يصومون ويصلون ويتصدقون وهم يخافون أن
لا تقبل منهم أولئك الذين يسارعون في الخيرات وهم لها سابقون
Dari ‘Aisyah
-radiyallahu ‘anha- berkata, saya
bertanya kepada Rasulullah tentang ayat
ini (al-Mu’minun: 60), Aisyah berkata: apakah mereka adalah orang yang minum
khamr dan mencuri?, Nabi ﷺ menjawab: “tidak wahai bintu as-Shiddiq, akan
tetapi mereka adalah orang yang berpuasa dan sholat dan bersedekah, namun
mereka takut tidak diterima ibadah mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat
kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya. (Hadis
riwayat at-Tirmidzi: 3175).
semakin tinggi
kedudukan hamba maka semakin besar rasa takutnya kepada azab Allah ﷻ dan semakin banyak ia berlindung kepada
Nya dari neraka.
Karena Neraka itu adalah tempat yang terjelek,
sebagaimana dalam fir,man Allah ﷻ:
إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا
Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat
menetap dan tempat kediaman. (al-Furqon: 66).
5. Hamba Allah ﷻ menggunakan hartanya untuk beribadah,
infaq dan shafqoh dan ketaatan
kepada Allah ﷻ
tanpa berlebih-lebihan dan tidak pula pelit.
Allah ﷻ
berfirman:
وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا
وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا
Dan orang-orang yang
apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir,
dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.
(al-Furqon: 67).
Hamba Allah ﷻ yang maha ar-Rahman, ketika ia telah
menundukkan dirinya kepada Rabnya, maka ia juga tunduk kepada-Nya berkaitan
dengan hartanya, sehingga mereka tidak berlebihan dalam berinfaq dan juga tidak
bakhil (pelit).
Tidak Berlebihan,
artinya tidak boros. termasuk dalam berlebihan bila mana dia infaq kepada fakir
miskin, namun dia lupa menafkahi keluarganya, jangan sampai ia membengkalaikan
kewajibannya. Maka hamba Allah ﷻ tidak menggunakan
hawa nafsunya dalam berinfaq.
Yang Allah ﷻ inginkan adalah pertengahan antara
keduanya. Namun juga tidak bakhil, susah keluar uangnya, atau bakhil kepada
keluarganya, beli baju yang tidak sepantasnya padahal dia mampu, membeli sendal
yang tidak layak, padahal dia ada keluasan rizki. (dan yang wajib adalah
membelanjakan harta sesuai dengan keadaannya).
Kalau rizkinya ada
keluasan maka dia berinfak sesuai dengan keluasannya, ia mengikuti aturan Allah
ﷻ dalam urusan ini (management harta).
6. Dia mentauhidkan
Allah ﷻ. Tidak memalingkan segala ibadah kepada
selain Allah ﷻ,
tidaklah ia berdo’a, sholat, puasadn haji
kecuali kepada Allah ﷻ.
Allah ﷻ berfirman:
وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا
آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ
وَلَا يَزْنُونَ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا
Dan orang-orang yang
tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah ﷻ
dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah ﷻ
(membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang
siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan)
dosa(nya) (al-Furqon: 68).
Jika seseorang masih
memalingkan ibadah kepada selain Allah ﷻ
maka dia belum menjadi hamba Allah ﷻ. Walaupun, namanya Abdullah maka
tidak dikatakan hamba Allah ﷻ jika dia masih
melakukan kesyirikan.
Hamba Allah ﷻ Dia bukan menghamba kepada jimat, dukun
dan lain sebagainya … akan tetapi, dia hanya menghambakan diri kepada Allah ﷻ.
7. Tidak membunuh nyawa manusia yang
diharamkan kecuali dengan cara yang hak
Ini menunjukkan kesempurnaan penghambaan nya kepada
Allah ﷻ.
Ia mengikuti aturan
Allah ﷻ, dia tidak akan membunuh jiwa yang
diharamkan oleh Allah ﷻ. Dan diantara jiwa
yang Allah ﷻ haramkan adalah jiwa seorang muslim.
Nabi ﷺ bersabda:
لَزوالُ الدُّنيا أهونُ على اللهِ من قتلِ رجلٍ
مسلمٍ
Sungguh hilangnya dunia dan seisinya lebih ringan
bagi Allah ﷻ dari pada membunuh jiwa seorang muslim (
Hadis riwayat AT-Tirmidzi: 1395 ).
Dan apa yang kita
dengar pada media-media, begitu mudahnya orang membunuh, maka ini sangat
menyedihkan.
Membunuh adalah termasuk dosa besar, Allah ﷻ berfirman:
وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُّتَعَمِّدًا
فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ
وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا
Dan barangsiapa yang
membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia
di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab
yang besar baginya. (an-Nisa’: 93).
Oleh karena itu islam menghukum qishos bagi
pembunuh.
Karena, biasanya orang
yang sudah pernah membunuh, mereka akan mudah untuk membunuh untuk selanjutnya,
Maka ini adalah hikmah Allah ﷻ. Dan Allah ﷻ mengabarkan bahwa pada qishos terdapat
kehidupan, (yakni, kehidupan dan terjaganya jiwa-jiwa yang tak berdosa dari
kejahatan tangan-tangan yang suka membunuh).
Tidaklah dihalalkan membunuh manusia kecuali dari
apa yang dihalalkan oleh Nabi ﷺ, (diantaranya apa
yang disebutkan pada hadis berikut):
لا يحل دم امرئٍ مسلمٍ يشهد أن لا إله إلا الله
وأني رسول الله إلا بإحدى ثلاثٍ: الثيب الزاني، والنفس بالنفس، والتارك لدينه
المفارق للجماعة
Tidaklah halal darah
seorang muslim kecuali dengan salah satu dari tiga hal; ast-Sayyib (orang yang
sudah pernah menikah) yang berzina, jiwa dibalas dengan jiwa (qisos), orang
yang murtad dari agamanya dan memisahkan diri dari jama’ah kaumuslimin. (Hadis
riwayat al-Bukhari dan Muslim).
(Hadis ini terkandung padanya
dihalalkan-nya darah-darah berikut: )
1. Wanita/laki-laki yang sudah pernah
menikah lalu berzina, (maka dia dirajam sampai mati)
2. Pembunh jiwa orang lain (dengan jalan
yang tidak dibenarkan), maka dia diqishos
3. Orang yang murtad (meninggalkan agama
islam).
Sebagaimana sabda Nabi ﷺ
:
مَنْ بَدَّلَ دِيْنَهُ فَاقْتَلُوهُ
Barang siapa yang meninggalkan agamanya maka
bunuhlah dia (Hadis riwayat al-Bukhari: 6922 ).
Diantara orang yang keluar dari agama islam adalah
penghina al-Quran, tukang sihir (dsb..).
Adapun, yang dapat melakukan ini semua adalah para
penguasa (pemimpin sebuah negara).
4. Orang kafir harbi maka dihalalkan
darahnya (adapun kafir dzimmi, mu’ahad dan
musta’man;maka tidak dihalalkan).
Maka hamba Allah ﷻ
tidak akan mengikuti hawa nafsunya, jika Allah ﷻ
mengatakan jangan maka dia tidak pernah akan melakukannya.
8. Tidak berzina.
Yaitu melampiaskan syahwatnya bukan kepada istrinya
atau hamba sahayanya yang perempuan.
Seorang hamba Allah ﷻ tidak meletakkannya kecuali pada Apa yang
Allah ﷻ halalkan, maka dia tidak berzina.
Zina adalah dosa besar,
adanya hukuman didunia (dan azab yang pedih di akhirat). Padasnya ada kerusakan-kerusakan yang banyak:
tercampurnya nasab, menyebarnya penyakit, tersobeknya kehormatan kaumuslim.
Bahkan, islam melarang kita dari mendekati zina.
Allah ﷻ
berfirman:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ
فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًاوَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً
وَسَاءَ سَبِيلًا
Dan janganlah kamu
mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan
suatu jalan yang buruk. (al-Isra: 32).
perkara-perkara yang
memicu zina sangatlah banyak, diantaranya hal-hal berikut ini: Pandangan yang
harom, berkholwat, menyentuh wanita yang bukan mahrom (seperti bersalaman),
berbicara yang berlebihan (dan lain-lain).
Terlebih dizaman
sekarang, fitnah wanita semakin dahsyat, dengan adanya intrnet dan alat-alat
komunikasi yang begitu canggihnya.
Hendaknya kita merasa takut untuk (atas fitnah ini)
terhadap diri kita dan juga anak-anak kita.
Pada saat ini sangat
sulit untuk selamat dari gelombang fitnah ini kecuali bagi siapa yang Allah ﷻ jaga (Oleh karenanya butuh kesungguhan
dalam menghadapi masalah ini).
Kemudian, Allah ﷻ melanjutkan, barang siapa yang melakukan
hal demikian maka dia akan mendapatkan (atsama), sebagian ulama tafsir
menyebutkan makananya yaitu lembah di neraka dengan sebab menyekutukan Allah ﷻ, membunuh, dan berzina. (adapun) Kekal
didalamnya selama-lamanya, adalah bagi orang yang mengumpulkan tiga hal tadi
pada dirinya; kesyirikan, membunuh, dan berzina.
Adapun, bagi pelaku
dosa besar; seperti zina, membunuh, (dan lain-lain) maka dia tidak kekal didalam neraka.
Allah ﷻ
berfirman:
إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ
بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ
وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ
Sesungguhnya orang yang
mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah ﷻ,
maka pasti Allah ﷻ mengharamkan
kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang
zalim itu seorang penolongpun. (al-Maidah: 72).
Selanjutnya, Allah ﷻ
melanjutkan, kecuali orang yang bertaubat; bertaubat dari dosa-dosa tadi. Ia
menyesal lalu meninggalkannya dengan azam (tekad yang kuat) untuk tidak balik
kepada dosa tadi dan diapun beriman kepada Allah ﷻ
dengan diiringi dengan amal-amal sholih, maka bagi mereka itu Allah ﷻ gantikan kesalahan-kesalahan yang pernah
mereka perbuat dengan kebaikan-kebaikan. Dia
yang punya dosa syirik, dosa memandang kepada yang harom, durhaka kepada org
tua, dan lain sebagainya, maka dosa-dosanya ini Allah ﷻ
rubah menjadi kebaikan. Jika dosanya berjumlah seratus, maka 100 dosa tersebut
Allah ﷻ rubah menjadi 100 kebaikan, tidak hanya
diampuni dosanya, tetapi dirubah dosanya menjadi kebaikan. Lalu, kenapa kita
masih menunda-nunda untuk bertaubat?.
Allah ﷻ
berfirman:
وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ
إِلَى اللَّهِ مَتَابًا
Dan orang-orang yang
bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada
Allah ﷻ dengan taubat yang sebenar-benarnya.
(al-Furqon: 25).
9. tidak menghadiri majelis az-zur
dan tidak mengikuti perkara yang sia-sia.
(az-zur yaitu majelis-majelis yang
didalamnya terdapat perbuatan ataupun ucapan-ucapan yang
diharamkan)
(Kesia-siaan)
yaitu perkara yang tidak ada kegunaan untuk dunianya dan akhiratnya.
10. Mereka jika
diingatkan tentang Ayat-ayat Allah ﷻ,
mereka tidak akan berpaling, dia
berusaha untuk mendengarnya, tidak bersikap seorah tuli dan buta.
Karena bagi dia kalamullah adalah sesuatu yang
agung.
11. berdoa kepada Allah ﷻ
(diantara isi do’a mereka: )
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ
أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ
إِمَامًا
Dan orang orang yang
berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan
keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi
orang-orang yang bertakwa. (al-Furqon: 74).
Selain memperhatikan diri sendiri, mereka mendoakan
orang lain, termasuk anak dan istri mereka.
Hati mereka menjadi
tenang dengan melihat anak-anak dan istri-istri merekaa berada pada keta’atan,
yang Pada hakikatnya hal ini adalah kebaikan untuk diri-diri mereka sendiri,
karena kesholihan anak dan istri adalah kebaikan juga untuk diri mereka.
(karena, wanita adalah perhiasan) dan Sebaik-baik
perhiasan dunia adalah wanita sholihat.
Dan jika seseorang meninggal dunia akan terputus
semua amalnya kecuali (diantaranya) dari anak sholihyang sholih.
Diantara isi doanya juga, adalah: “ya Allah ﷻ jadikanlah kami imam bagi orang yang
bertaqwa.”
(Imam) disini, artinya
adalah qudwah dan panutan bagi orang-orang yang bertaqwa. Manusia meeniru apa
yang ia lakukan dari kebaikan-kebaikan.
mereka mendapatkan pahala yang besar disebabkan
mausia mencontoh perbuatan baiknya.
Nabi ﷺ
bersabda:
مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ
أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ
شَيْئًا
Barang siapa yang
mencontohkan sesuatu kebaikan didalam islam maka dia akan mendaapatkan
pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka
sedikitpun (Hadis riwayat Muslim: 1017).
[ BALASAN BAGI ‘IBADUR-RAHMAN]
Balasan mereka, akan
Allah ﷻ berikan bagi mereka kamar disurga, kamar
(yang keindahannya) tidak pernah didengar oleh telinga, tidak pernah terlihat
oleh pandangan mata dan tidak pernah terbetik dalam hatinya (selama didunia),
maka kamar (yang disiapkan bagi mereka) disurga lebih baik lagi dari seluruh
kamar yang pernah kita dengat ataupun kita lihat.
Mereka mendapatkan ini semua karena kesabaran mereka
dalam melaksanakan keta’atan-keta’atan diatas …
merekaBersabar dalam
tawadhu’, bersabar dalam berinfaq, bersabar dalam menjaga kemaluan (dari
perkara yang diharamkan) . Semuanya butuh kesabaran.
mereka disurga akan
diterima dan disambut dengan penuh penghormatan, dan mereka diterima dengan mengucapkan salam keselamatan.
surga adalah tempat
keselamatan tanpa setitik pun dari kesusahan, dan mereka kekal didalamnya
slama-lamanya.
Seorang hamba Allah ﷻ ia lebih mendahulukan apa yang Allah ﷻ janjikan kepadanya (berupa kenikmatan
akhirat) dari pada keuntungan (kenikmatan) dunia dan seisinya, Itulah dia surga
sebaik-baik tempat tinggal.
وصلى
الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
*Catatan pribadi hamba Allah al-Faqir ila Rabbih:
Abu Salman –Semoga Allah menjaganya-
(bila mana dalam catatan ini terdapat kesalahan
baik nukilan maupun konten, maka tidak dapat di nisbatkan kepada al-Ustadz Dr.
Abdullah Roy, Lc. Ma.)

0 komentar:
Post a Comment