Tuesday, 9 October 2018

SIAPA SALAF ITU?

Pengertian Salaf
            Telah dijelaskan sebelumnya makna salaf secara bahasa. Adapun yang dimaksud dengan salaf secara istilah diperselisihkan menjadi beberapa pendapat, yang paling penting diantaranya adalah:
1. Mereka adalah para sahabat saja.
2. Mereka adalah sahabat dan tabi’in
3. Mereka adalah sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in
4.Salaf adalah generasi sebelum Tahun 500 H, dan pemilik pendapat ini menganggap bahwa salaf adalah madzhab yang dibatasi dengan batasan waktu tertentu dan tidak melampauinya, kemudian wawasan islam berkembang setelah itu melalui tokoh-tokohnya.
Apakah batasan ini cukup untuk membatasi pemahaman salaf, jika kita mengatakan bahwa yang dimaksud dengan salaf secara zaman adalah mereka yang hidup pada 3 kurun/abad yang utama, berdasarkan hadits-hadits yang menyebutkan kurun yang utama secara spesifik; maka apakah setiap orang yang hidup pada kurun tersebut kita anggap salaf yang pantas diikuti?
Tidak dipungkiri bahwa hal itu tidak benar. jawaban pasti dari pertanyaan tersebut adalah tidak. karena realitanya telah muncul banyak firqah dan kelompok pada kurun waktu ini.
Jadi, lebih terdahulu dari sisi waktu saja tidaklah cukup untuk menetapkan salaf, tapi mesti ditambahkan disamping terdahulu waktunya juga memiliki keselarasan pendapat dengan al Quran dan as Sunnah. Barang siapa pendapatnya berseberangan dengan al Quran dan as Sunnah, maka dia bukan salafi, walaupun hidup di tengah para sahabat dan tabi’in[1] .


Jika demikian, maka keberadaan seseorang pada  zaman yang utama ini tidaklah cukup untuk menghukuminya berada di atas madzhab salaf selama ia tidak sejalan dengan al Quran dan as Sunnah dalam  ucapan dan perbuatannya, tidak mengikuti sunnah dan membuat bid’ah. Karena itu, kebanyakan ulama  membatasi masalah ini – ketika menyebutkanya – dengan  sebutan Salafus Shalih.
Imam as Safarayini berkata, Yang dimaksud dengan mazhab salaf adalah apa yang dianut oleh para sahabat yang mulia, dan para tokoh tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik, serta tabi’ut tabi’in dan para imam agama ini yang  disepakati keilmuannya, dikenal kedudukannya dalam agama, dan orang-orang mengambil ucapannya dari generasi-generasi, bukan orang yang dituduh dengan  kebidahan, atau dikenal dengan gelar yang tidak pantas, seperti Khawarij, Rafidhah, Qodariyah, Murjiah, Jabariyah, Jahmiyah, Mu’tazilah, Karramiyah, dan sejenisnya.[2]
Sungguh beliau membatasi salaf yang layak dijadikan panutan adalah orang  yang telah disepakati ilmunya dan tidak dituduh melakukan bid’ah. karena itu , tidak semua salaf harus diikuti. Namun salaf yang pantas menjadi suri tauladan dan uswah yang baik adalah para salaf yang terpilih dari kalangan sahabat Nabi dan para imam tabi’in serta yang mengikuti mereka, yang telah dipersaksikan  kebaikanya, dikenal komitmen dan keimannya dalam sunnah, serta menjauhi bid’ah dan memperingatkan manusia darinya. Sungguh Alloh telah memerintahkan kita untuk mengikuti jalan para Sahabat dan meniti asar/jejak serta menempuk manhaj mereka.
 Alloh berfirman :
وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ
“Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada Ku” (luqman : 15)
Ibnu  Qoyim mengomentari ayat di atas:
“Setiap sahabat adalah orang yang kembali kepada Alloh, maka wajib mengikuti jalannya. Ucapan dan keyakinanya merupakan jalannya yang paling besar.[3]
Sungguh Allah ridha kepada mereka dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik. Firman-Nya,
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ [٩:١٠٠]
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (at-Taubah: 100)
Dengan demikian, bukan termasuk bid’ah menamakan Ahlus Sunnah dengan Salafiyin. Bahkan istilah salaf sesuai dengan istilah  Ahlus sunnah wal jama’ah. Hal itu dapat diketahui dengan memperhatikan terkumpulnya kedua istilah tersebut pada diri para sahabat, merekalah as –Salaf dan merekalah Ahlus Sunnah wal Jammah.[4]
Sebagaimana boleh kita mengatakan “Sunni” sebagai penisbatan diri kepada Ahlus Sunnah, maka tentu boleh pula mengatakan “salafi” sebagai penisbatan diri kepada salaf, tidak ada bedanya. Karena setelah munculnya firqah-firqh dan terjadinya perpecahan umat, maka kalimat salaf sangat tepat bagi orang yang menjaga keselamatan aqidah dan manhaj  sesuai dengan pemahaman para sahabat dan generasi yang utama. Istilah salaf merupakan sinonim dengan  nama syar’I Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang lainnya sebagaimana penjelasan yang telah lalu.







Ditulis ulang oleh Abu Ahmad Supiandi dari buku Jadilah Salafi sejati yang diterjemahkan oleh Heri Iman Santoso dari kitab Kun Salafiyan ‘alal Jaddah oleh Syaikh Abdussalam bin Salim As-Suhaimi.




[1] Wasathiya ahlis sunnah bainal Firaq karya DR.Muhammad Ba Karim (hal: 97-101) dengan sedikit perubahan, dan ini merupakan buku yang bagus.
[2] Lawami’ al-Anwar (1/20)
[3] I’lam al-Muwaqi’in (4/120)
[4] Mauqifu Ahlis Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Ahwa wal Bid’ah (1/63)

0 komentar:

Post a Comment